Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 April 2014

Fasisme dan New born something…


“Fasis yang baik adalah fasis yang mati” (Homicide).

Kalau anda suka music hiphop indie, mungkin pernah dengar nama Homicide rapper dari Bandung. Mengenang masa kuliah sarjana dulu, saya jadi ingat petikan lirik lagu itu -judulnya “Puritan”. Definisi bebas dari fasisme kurang lebih seperti ini: gerakan radikal dengan basis ideologi politik otoriter bertujuan untuk mengatur nilai, sistem politik dan ekonomi suatu bangsa menurut perspektifnya.

Menyoal fasisme, tentu yang paling fenomenal dan terkenal adalah Nazi Jerman dengan tokohnya Adolf Hitler. Jutaan manusia dibantai di Eropa karena ide soal pemurnian ras Arya yang diikuti pengikutnya dengan takzim.  Contoh fasis lain ada juga di Eropa, sebut Musollini di Italia atau Jepang semasa Perang Dunia II dengan jargon menjadi saudara tua bangsa-bangsa Asia. Demikian pula Soviet semasa dipimpin Stalin. Era Nazi, Musollini, Stalin sudah lewat, tapi apakah fasisme juga hilang. Ternyata tidak. Tren fasisme lama menjangkiti ideologi Negara, yang terbaru menjangkiti agama. Kalau negara terbatasi wilayah dan bangsa, bagaimana kalau ini menjangkit pada agama. Potensi daya rusaknya pada kemanusiaan tentu tak kalah dahsyat.

Taliban di Afganistan dan Pakistan adalah fasis berbasis ideologi agama yang menempuh jalur kekerasan. Soal korban terbarunya yang paling fenomenal adalah Malala Yousafzai yang ditembak kepalanya karena dianggap melawan dengan menuliskan pemikirannya tentang pendidikan untuk perempuan diblog. Usai ditembak ia dirawat di Inggris dan meneruskan pendidikannya di sana sembari menjadi ikon perlawanan terhadap Taliban. Taliban adalah contoh ekstrem, masih ada yang lain sebutlah: Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Mereka tak seradikal Taliban, tapi soal ke-fasis-an, tak kalah fasih.

Lalu apa hubungannya dengan New born something… di Indonesia.

Kalau anda pernah jadi mahasiswa baru, tentu tahu betapa agresifnya rohis menggaet anggota. Siapa di belakang rohis ini, pilihannya hanya 2: kalau bukan HTI berarti PKS (lewat KAMMI sayap politiknya di mahasiswa). Sasaran utamanya adalah kampus-kampus negeri yang bukan UIN (Universitas Islam Negeri). Mengapa demikian? Karena mahasiswa baru di kampus-kampus tersebut lebih mudah diajak dalam kegiatan “keagamaan” karena rata-rata dari mereka adalah jebolan sekolah sekuler. UIN secara tradisional menjadi tujuan anak-anak dengan basis pendidikan keagamaan (Madrasah Aliyah/Pesantren). Sebagai mahasiswa baru, pencarian identitas adalah soal penting. Agama adalah salah satu jalan penemuan identitas yang banyak terlewat semasa sekolah. Sebagai contoh, berapa banyak perempuan beragama islam yang kemudian berjilbab saat kuliah. Ini jadi peluang rekruitmen, lewat jalan mengenalkan kembali agama “yang benar” pada mahasiswa baru.

Eureka, kata Archimedes usai menemukan hukum kesetimbangan volume. Eureka berarti “aku menemukannya”, sebuah ungkapan atas pencerahan pemikiran. Sebentuk euforia. Inilah yang jadi kekuatan dalam kaderisasi fasis  agama di kampus-kampus. Melalui doktrin mereka mengubah pandangan awam menjadi seorang penemu yang tercerahkan. Ini yang saya katakan sebagai new born… Dan, semua new born… rata-rata merasa sudah mempunyai kebenaran sejati atas apa yang baru ditemukannya. Seperti keluar dari zaman kegelapan menuju kesempurnaan. Felix Siaw boleh jadi adalah contoh yang ideal. Ia yang sebelumnya mualaf tionghoa, kini menjadi salah satu marketing utama HTI di Indonesia. Ini kasus untuk new born moslem, pada kasus lain pada agama dan ideologi apapun gejalanya sama.

Di alam demokrasi, semua orang bebas punya ideologi atau pemikiran apapun. Namun ada ironi di sini, soal fasisme. Mereka anti demokrasi, namun mereka hanya bisa hidup dan berkembang di negara demokrasi. Hizbut Tahrir berpusat di Inggris dan punya cabang di Indonesia. PKS sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir, menjadi partai politik di Indonesia. Seperti fasis pada umumnya mereka selalu membawa isu kesamaan, dalam fasisme agama tentu yang ingin dibangun adalah imaji kejayaan di masa lampau tentang kejayaan khilafah. Walau mereka berada di Indonesia, isu yang terus menerus menjadi bahan bakar utamanya adalah Palestina. Mudah sekali kita menemukan bendera Palestina saat berdemo sebagai atributnya, baik dikibarkan atau menempel dipakaianya. Bukannya abai terhadap persoalan Palestina, jelas ada pelanggaran hak asasi manusia di sana. Ada kejahatan kemanusiaan, tak bisa kita pungkiri. Namun, isu yang mereka angkat bukan itu, tetapi “umat Islam yang di bantai”dan “Islam dilecehkan”. Walau mereka di Indonesia, jarang sekali mereka rajin mengangkat isu soal pendidikan, kemiskinan atau lapangan pekerjaan yang tentunya juga permasalahan umat Islam. Terang kalau, fasisme selalu  memanfaatkan kondisi psikologis seperti : frustasi, kemarahan dan perasaan tak aman. Untuk fasisme agama tentu jawaban untuk keresahan-keresahan ini adalah doktrin kelompok mereka dengan ornamen agama yang sempurna.

Persoalan maraknya kelompok fasis ini adalah disintegrasi. Dengan memanfaatkan frase “Umat Islam” mereka menjadi teror (minimal psikis) untuk kelompok-kelompok minoritas. Mereka menginginkan kesamaan yang selain mereka adalah salah, dan seringkali disebut musuh.
Kalau fasisme model ini menjangkiti anak-anak muda kuliahan secara masif mungkin tak lama lagi Indonesia akan berubah nama Indonistan mungkin. Menengok sejarah, Islam tak masuk ke nusantara dengan prasangka kebencian. Pendekatan kultural agama menjadi obat yang manjur melawan laju radikalisasi fasis jenis ini.


(Melbourne, 4/4/2014)

Senin, 03 Desember 2007

Antara Tuhan dan Warna Ke-daifan manusia yang dilupakan

Tentang Tuhan dan Empirisme yang tak Terkonsepsikan

Antara Tuhan dan Warna

Ke-daifan manusia yang dilupakan

Oleh: Aulia Latif


Ada atau tidak adanya Tuhan menjadi kontroversi bagi manusia, telah melahirkan berbagai konstruksi konsepsi argumen yang keduanya, sama-sama hebat. Bahkan bagi sesama manusia yang meyakini adanya tuhan sekalipun, dalam bingkai keyakinan yang berbeda sekalipun, konsepsi tentang tuhan terbangun dengan apik dan rapi. Agama adalah konstruksi konsep tentang tuhan yang memberikan argumen dengan teks-teks suci yang katanya-“tak terbantahkan”- sangat jelas, walau tak seorangpun pernah melihatnya.

Melihat berarti memaknai yang terlihat dengan panca indera, yakni mata. Setelah melihat manusia dapat mengkonstruksikan apa yang dilihatnya. Memakai pemahaman empirik, melihat, maupun kegiatan mencecap kenyataan dengan panca indera akan memperoleh hal yang disebut realistis. Atau dalam bahasa awamnya nyata. Yang terlihat atau yang tercecap oleh panca indera lainnya adalah yang “nyata”. Diluar hal itu tidak ada yang nyata, berarti konsepsi tentang tuhan pun akan dibantah empirisme karena tak dapat dicecap panca indera. Empirisme ini kemudian melahirkan pahan positivistik yang mengagungkan sesuatu yang dianggap logis dan universal karena dapat dirasakan dan dibuktikan oleh manusia dimanapun.

Tapi, ada yang dilupakan oleh keduanya. Dari yang terlihat, yang nyata dan tak pernah terusik oleh konsepsi manusia. Saya akan mulai berargumen mengenai Tuhan dan Warna. Tuhan adalah sesuatu yang jauh dari jangkauan manusia tapi dapat dikonstruksikan secara rapi, baik yang merasa harus membelanya maupun harus melawannya. Bandingkan dengan warna, dapat dilihat dan jelas-jelas ada dalam keseharian manusia, baik yang mengakui tuhan maupun tidak. Kemudian permasalahannya adalah dapatkah warna dikonsepsikan manusia sebaik Tuhan? Boleh jadi jika keyakinan tentang Tuhan selalu menyertai kita walau tak terlihat maka dapat dikonsepsikan. Bukankah warna juga menyertai kita dan seharusnya konsepsinya dapat dikonstruksikan sebaik, bahkan lebih baik dari tuhan yang tak pernah kita lihat. Tidak akan menjadi masalah jika penjelasan konsepsi tentang warna disampaikan pada manusia yang dapat menggunakan indera penglihatannya, selanjutnya bagaimana dengan orang buta (sejak lahir) dapatkah dia memaknai warna yang dikonsepsikan dalam bahasa. Akan berbeda dengan tuhan yang dikonsepsikan dalam bahasa disampaikan pada orang buta, ia akan lebih mudah menerima dan bisa memaknainya. Penjelasan tentang warna akan berada diseputar benda yang memiliki warna yang dikonsepsikan. Semisal warna hijau adalah warna daun, warna biru adalah warna langit dan berbagai pertautan dengan benda yang harus “dilihat” untuk memaknainya. Sejauh ini saya belum menemukan pemaknaan konsepsi warna yang lebih jelas dibandingkan dengan konsepsi tentang tuhan. Untuk itu saya akan mengutip penjelasan dari kamus1 tentang tuhan dan warna (saya akan memperjelasnya dengan memberikan contoh warna merah):

  • Tuhan: sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai yang maha kuasa, maha perkasa dsb...

  • Warna : Kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya; corak rupa seperti biru dan hijau...

  • Merah: warna dasar yang serupa dengan warna darah

Dalam persepsi saya akan lebih mudah untuk mengkonsepsikan makna tuhan dan menyampaikannya kepada orang buta, dibandingkan dengan melakukan hal serupa dengan warna. Tuhan akan lebih mudah untuk disampaikan karena setelah diyakini konsekwensi lain akan datang beriringan untuk memperkuat konstruksi tentangnya. Tidak demikian dengan warna yang mensyaratkan harus dilihat pada benda sebelum dimaknai. Ironisnya makna dari warna tak bisa sejelas tuhan yang memiliki dukungan argumen dengan banyak kutipan dari kitab-kitab suci maupun teks-teks pendukung lain.

Saya meyakini, sebenarnya semua manusia yang berbahasa adalah buta terhadap yang nyata, hanya dapat meraba dan mereka-reka. Realitas yang dimaknai adalah bentuk imajiner dan simbolik yang terekam dalam bahasa. Apa yang ditunjukkan ketika memaknai warna sangatlah bergantung pada penglihatan yang sangat nyata, namun tak dapat dijelaskan dalam konsepsi utuh konstruksi bahasa. Tuhan yang tak dapat dilihat, dapat terjelaskan dengan lebih terperinci. Bukankah seharusnya sebaliknya yang terjadi. Bukankah manusia adalah daif2 (lemah). Memaknai tuhan dengan “sempurna”, tapi tak pernah bisa memaknai keseharian warna.


1 Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, 1993. Balai Pustaka

2 Kata ini seringkali digunakan oleh Gunawan Mohammad

Mesin Pencari