Lama tak menulis, saya coba mulai lagi dengan mengomentari puisi Romo Sindhu(Sindhunata)"Cintamu Sepahit Topi Miring". Menarik bagi saya karena bicara soal kemabukan. Disini kemabukannya spesifik, monggo dibaca mulai dari puisinya lalu komentar keminter saya. Hahahaha, semoga berkenan.
Cintamu Sepahit Topi Miring
Senja di desa Baron
matahari tenggelam dalam kemaron
Lembu betina lari melompat-lompat
dikejar-kejar anaknya yang kecil meloncat
Senja lucu dengan kasih sayang ibu dan anak
langit senja mengandung sapi beranak
terpesona Ranto melihat, ia tertawa bergelak
dan berubah jadi Ranto Gudel, sang pelawak
Jadi Marmoyo di panggung ketoprak
Ranto Gudel meminum arak
Terendam dalam ciu
birahinya berubah jadi biru
Diajaknya Nyai Dasima bercinta
dengan cinta sepahit Topi Miring
Layar dibuka, turun hujan gembukan
Dewi Mlenukgembuk datang
membawa seguling roti cakwe
Marmoyo rebah terguling
tidur di pangkuan Nyai Dasima
yang sekeras ciu cangkol buah dadanya
Ke mana Ranto Gudel pergi
panggung selalu harum dengan arak wangi
Di Sriwedari jadi petruk
Garengnya diajak mabuk
Bagongnya menggeloyor
Semarnya berjualan ciu cangkol
Dengan terang lampu semprong
Pak Mloyo memukul kenong
nong ji, nong ro
giginya ompong menggerong:
Ranto Gudel Mendehem
Nyungsep di Bengawan Solo
di sana ia lalu menyanti:
Itu perahu, riwayatmu dulu
kini sungaimu mengalirkan arak wangi
dengan harumnya aku mandi
Thuyul gundhul ke sana sini mengempit gendul
gendruwo thela-thelo, tampak loyo
jrangkong jalannya miring-miring dhoyong
dhemit setan wedhon
anak-anak Bathari Durga dari bukit Krendhawahana
semuanya mabuk menari-nari:
Sengkuni leda-lede
mimpin baris ngarep dhewe
eh barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok
Belum selesai menabuh kenong
Nong ji, nong ro
Pak Mloyo pulang geloyoran
Abu-abu wajahnya terendam ciu
Dari jauh Ranto Gudel melihatnya
duduk berjongkok di Bengawan Solo:
Air mengalir sampai jauh
membawa botol-botol cangkol
yang mengapung-apung seperti lampion
nyalanya bundar, seperti kenong
Pak Mloyo terguling ke Bengawan Solo
dengan irama nong ji nong ro
Ranto Gudel tertawa:
Itu perahu botol cangkol
mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut berombak ciu
Malam berpayung hitam
hitam dibuka dengan bulan
Ranto Gudel minum arak bekonang
mengantar gadis pulang, berdandan bidan
roknya putih, bajunya putih
serba putih lebih daripada peri
Tiba di pinggir kali
Ranto Gudel diajak belok ke kiri
Rumahnya temaram
kursinya sedingin batu bulan
Birahinya menyentuh dingin
tergeletak ia di atas kijing
Dhemit elek asu tenan
mengumpat Ranto Gudel geram
Ia marah terendam arak bekonang:
Asu, hampir saja aku bercinta dengan setan
Cinta manusia seperti Umbul Penggung
dulu bening sekarang keruh
dulu kerajaan sekarang desa
Ranto Gudel dengan empat istrinya
tak pernah abadi cintanya
Memang enak jadi wedhus daripada manusia
bila mati, manusia dikubur di gundukan tanah
kepalanya dikencingi wedhus yang merumput
Nasib manusia hanyalah sengsara sampai akhirnya
mengapa kita mesti bersusah?
Hiduplah seperti Joko Lelur
siangnya melamun minum limun
malamnya bangun minum berminum
lapen ciu cangkol arak bekonang
Sekarang di sudut-sudut rumah
botol-botol cangkol dipasangnya
untuk menolak dan menakut-nakuti tikus
Di hari tuanya Mbah Ranto mengenang
bayangkan, ciu cangkol hanyalah spiritus
yang bisa mengusir tikus
padahal dulu aku minum sampai lampus:
Aku memang benar-benar wedhus!
Hueek.
Hueeeeek.
Hueeeeeeeek.
Wis wis......
puisi : Sindhunata
Puisi yang di buat Romo Sindhu ini menggelitik dan sangat etnik. Pilihan setting, kata dan tokohnya sangatlah jawa. Setting yang dimulai dari Desa Baron, Sriwedari hingga Bengawan Solo. Pertunjukan ketoprak dan tokoh-tokoh dari Ranto (yang menjadi Gudel sampai mbah Ranto), Pak Mloyo, Tokoh wayang (Gareng,Bagong, Semar dan Sengkuni hingga Betari Durga), Nyai Dasima dan Joko Lelur. Kata yang dipakai memuat soal: Makanan (cakwe), hantu (Tuyul, jrangkong, Genderuwo), alat musik (kenong) dan umpatan (asu) langsung terasosiasikan pada kehidupan jawa pinggiran. Puisi ini kurang lebih, Menceritakan kemabukan akan kehidupan yang mabuk dengan cara jawa pinggiran, mungkin demikian saya bisa menafsirkannya.
"Lapen ciu cangkol arak bekonang"
potongan bait ini menunjuk jenis minuman yaitu ciu dan daerah penghasilnya Bekonang. Ciu adalah minuman keras yang dihasilkan dari fermentasi tetes tebu, jika dilanjutkan pengolahannya akan menghasilkan etanol alias spiritus (yang kemudian di sebut juga di bait berikutnya). Minuman ini sangatlah pinggiran, dari asal daerah pembuatnya bekonang, pinggiran kota solo. Hingga peminumnya yang relatif proletar, paling tidak lewat suasana yang dibangun di puisi ini. Akan lebih terasa jika anda sempatkan berjalan-jalan di Kota Solo, jalan-jalanlah di sekitar pasar tempat tukang becak atau tukang parkir mangkal. Bertanyalah tentang ciu pada mereka, pasti akan menarik informasinya. Untuk topi miring kurang lebihnya sama, merk minuman yang populer untuk proletar, botol satuan satu liternya biasa dipakai buat bensin eceran.
Oh ya, Jahanam grup musik rap asal Jogja mengadopsinya menjadi lagu. Jahanam sendiri selalu menggunakan bahasa jawa dalam liriknya. Salah satu lagunya yang hits semasa saya masih kuliah adalah "Tumini". Kalau anda berminat bisa diunduh disini http://www.4shared.com/get/wsjuPMhO/Jahanam__-_Cintamu_Sepahit_Top.html
Dalam lagunya yang satu ini, jahanam menggunakan bahasa indonesia, seperti puisi yang diadopsinya.
Menurut saya, yang paling menarik adalah judulnya : Cintamu Sepahit Topi Miring, tapi hanya empat bait yang menyebut soal cinta
"Diajaknya Nyai Dasima bercinta
dengan cinta sepahit Topi Miring"
Dan cinta di bait ini pun sangat mungkin mengarahkan pembaca untuk menafsirkannya sebagai seks. Apalagi kalau merujuk pada bait sebelumnya
"Ranto Gudel meminum arak
Terendam dalam ciu
birahinya berubah jadi biru"
Seperti anak dugem masa kini yang setelah mabuk kemudian cari pasangan untuk check in. Cuma settingnya yang berbeda. Mereka urban, dan ini pinggiran jawa. Mereka minum coctail, Ranto minum ciu cangkol. Ternyata ada kesamaan dalam minumannya, ada dua huruf c disana, antara coctail dan ciu cangkol.
di bait lainnya pun soal cinta dibahas pahit, tanpa keberadaan si topi miring:
"Cinta manusia seperti Umbul Penggung
dulu bening sekarang keruh
dulu kerajaan sekarang desa
Ranto Gudel dengan empat istrinya
tak pernah abadi cintanya"
Kemabukan yang diangkat dalam puisi ini dilantunkan sebisa mungkin dengan cara yang mabuk pula, melantur (ndleming dalam bahasa jawa) dan ini memperkuat imajinya. Tentu dengan cara melantur yang puitis dan menunjukkan pengetahuan penulisnya lewat latar belakang budaya yang diangkat lewat kata. Cara menunjukkan kemabukan cara jawa pinggiran yang proletar dan lucu. Mengakhirinya pun romantik, yaitu dengan muntah (jackpot), diakhiri dengan kata "wis" alias sudah.
Rabu, 27 Oktober 2010
Kamis, 06 Agustus 2009
Ladies Night dan Patriarki Kapitalisme Kontemporer
Jacques Lacan pernah berujar “hanya ada laki-laki di dunia ini” dengan kata lain “wanita itu tidak ada”. Mengikuti Nietzsche (knowledge=power), mendefinisikan berarti menguasai -kalimat tersebut berdasar. Dunia ini didefinisikan oleh laki-laki, manusia seutuhnya adalah laki-laki. Demikian juga dalam agama yang tafsirnya sangat laki-laki, menawarkan surga dengan puluhan bidadari –sebuah contoh kenikmatan laki-laki.
Dunia adalah milik laki-laki, demikian halnya dengan kapitalisme. Ekspoitasi kapitalisme kontemporer kini beralih pada konsumsi, saat produksi sudah berlebih. Kemudian gaya hidup menjadi komoditi (jualan). Tubuh wanita pun menjadi komoditas, dengan segala atributnya. Iklan yang sebagian besar menampilkan wanita, misalnya parfum. Parfum yang laki-laki selalu menampilkan efek pemakaiannya yang membuat wanita terkagum-kagum. Walau seakan-akan iklan parfum untuk wanita juga demikian. Namun perhatikan berapa banyak produk untuk wanita, kesemuanya bertendensi membuat kagum laki-laki. Kalau ditafsirkan radikal, wanita hanya pelengkap dunia laki-laki.
Produksi Life Style a.k.a gaya hidup yang kini menjadi konsumsi massa, terutama dalam industri hiburan yang menawarkan kesenangan. Fasilitas Dugem a.k.a clubbing kini menjadi pabrik gaya hidup modern, mesinnya masih sama, kapitalisme. Menarik untuk menilik bagaimana para pengusaha (kapitalis) menjajakan jualannya ini. Komodifikasi tubuh wanita tetap menjadi daya tarik utama. Cara yang dipakai mulai dari menawarkan sexy dancer hingga striptease yang kesemuanya menggunakan tubuh wanita. Cara lain yang jamak adalah event ladies night. Pada event ini pengunjung wanita tidak dikenai charge (biaya tiket masuk).
Ladies Night menarik diperbincangkan, wacana kapitalisme kontemporer dimana produsen menjadikan konsumen wanita berperan menjadi penarik perhatian laki-laki yang menjadi target pasar. Sebuah cara promosi murah yang menjanjikan keuntungan lebih. Tujuannya sederhana, menjadikan pengunjung wanita, menarik pengunjung laki-laki.
Minimal seminggu sekali event ladies night ini digelar, biasanya ditengah minggu (Rabu) dimana pengunjung klub menurun, sebuah strategi jitu yang mudah dan murah. Beberapa kemungkinannya antara lain: 1) Pengunjung wanita akan menarik perhatian pengunjung laki-laki yang jomblo; 2) Pengunjung laki-laki akan mengajak wanita ke klub dengan pertimbangan biaya charge lebih murah; 3) Pengunjung wanita akan mengajak teman laki-laki ke klub karena ia tak perlu membayar charge. Beberapa kemungkinan ini bakal meningkatkan jumlah pengunjung dengan mudah dan murah.
Klub a.k.a tempat dugem adalah ruang yang laki-laki, ladies night adalah upaya menjadikan hiburan laki-laki (baca: wanita) terkonsentrasi. Banyaknya kesenangan disana tentu tidak gratis, setara dengan banyaknya konsumsi yang berlangsung (minimal charge masuk untuk laki-laki dan minuman). Tubuh wanita yang telah menjadi bagian dari kesenangan laki-laki dikomodifikasikan lagi menjadi iklan gratis industri hiburan.
Satu lagi contoh dunia yang didefinisikan laki-laki, wanita hanya pelengkap kesenangan.
Minggu, 16 November 2008
Melacak Jejak Subordinasi Wanita
Oleh: Aulia Latif
Wanita dikisahkan diciptakan dari tulang rusuk lelaki. Artinya ia ada setelah laki-laki, ia selalu menjadi yang kedua sejak sejarah penciptaan diyakini. Lalu, tentang dilemparkannya manusia ke dunia juga karena salah wanita. Adam dan Hawa, sepasang manusia yang masih menjadi mahluk surga turun pangkat menjadi mahluk dunia karena Hawa memakan buah larangan. Demikian pula dalam mitologi Yunani tentang kisah kotak pandora yang dibuka oleh seorang wanita membawa malapetaka, wabah penyakit dan semua derita di dunia. Setelah diciptakan sebagai yang ke 2 kemudian wanita menjadi masalah bagi dunia. Demikian mitos tentang wanita sebagai mahluk kedua.
Dalam sejarah modern indonesia kita mengenal Kartini, sebagai sosok wanita jawa yang cerdas namun tertindas oleh budaya. Ia dipaksa menikah dengan bupati Rembang, budaya memaksanya hanya untuk menjadi 'kanca wingking'. Pikirannya yang progresif revolusioner di jamannya terekam dalam surat-suratnya yang dibukukan menjadi buku "habis gelap terbitlah terang". Ia bercita-cita memperjuangkan emansipasi, singkatnya persamaan hak. Pada masanya adalah hak untuk menentukan pilihan. Sekolah wanita yang dibuatnya merupakan bentuk resistensi terhadap subordinasi wanita.
Dunia kita saat ini dominasi patriarki sangatlah terasa. Perspektif keilmuan modern yang diderivasikan dari tradisi eropa secara implisit menyebut bahwa manusia hanyalah Laki-laki berkulit putih, beragama kristen dan berpendidikan modern. Diluar kategori itu hanyalah kurang manusia dan belum manusia sepenuhnya. Posisi wanita di tradisi eropa sekalipun masih sub ordinat. Bahkan secara satir, Jacques Lacan seorang filsuf-psikoanalis postrukturalis Perancis menyebut bahwa wanita itu tidak ada. Kuasa patriarkal dalam mendefinisikan dan memposisikan wanita hanya sebagai objek menjadi dasar pemikiran dari pernyataannya. Perlu diingat mendefinisikan berarti menguasai.
Era kontemporer semakin mempertegas posisi wanita sebagai yang subordinat dalam peradaban manusia. Tentunya semua pernah mendengar mengenai 3 masalah dunia yakni : harta, tahta dan wanita. Wanita menjadi masalah dunia. Ini menegaskan dunia adalah milik laki-laki. Agama juga tidak ketinggalan mendefinisikan wanita. Semua kitab suci agama samawi punya ayat-ayat seringkali ditafsirkan oleh laki-laki (karena menjadi imam?) mensubordinasikan wanita. Dalam islam hak poligami yang dimiliki laki-laki menegaskan dominasi patriarki. Baru-baru ini malah negara (lewat RUU pornografi) juga ikut-ikut untuk mensubordinasikan wanita sebagai penyebab kerusakan moral.
Kapitalisme juga tidak tanggung-tanggung dalam mengeksploitasi wanita. Industri kecantikan hingga hiburan berlomba mengukuhkan dominasi patriarki. Hampir seluruh tayangan iklan selalu memakai model wanita untuk menarik konsumen. Iklan produk perawatan tubuh wanita yang mendominasi televisi, selalu menawarkan citra kekaguman laki-laki atas wanita jika menggunakan produknya. Ini menunjukkan bahwa penghargaan atas wanita ditentukan oleh laki-laki. Lagi-lagi dominasi patriarki yang mereduksi posisi wanita sebagai manusia utuh.
Belenggu partiarki menjadikan tubuh dan pikiran wanita tidak pernah menjadi milik mereka sendiri dan penindasan itu bisa terjadi melalui agama, ideologi dan industri.
Selalu ada harapan, seperti dalam mitos dilemparkannya adam dan hawa. Mereka masih punya kesempatan untuk kembali ke surga. Dipertegas dalam doktrin agama, surga ada dibawah telapak kaki ibu. Dan, sampai saat ini semua ibu dari seorang anak adalah wanita. Demikian juga dengan Kotak Pandora, yang terakhir kali keluar adalah harapan. Seperti relief di Candi Sukuh dilereng Gunung Lawu menunjukkan simbol Yoni (kelamin wanita) yang menghadap ke Timur. Simbol ini bermakna harapan baru selalu muncul dari wanita, Timur adalah arah terbitnya matahari perumpamaan masa depan. Mendefinisikan adalah menguasai, maka berdayalah para wanita untuk menguasai dan mereproduksi wacana tentang dirinya.
Wanita dikisahkan diciptakan dari tulang rusuk lelaki. Artinya ia ada setelah laki-laki, ia selalu menjadi yang kedua sejak sejarah penciptaan diyakini. Lalu, tentang dilemparkannya manusia ke dunia juga karena salah wanita. Adam dan Hawa, sepasang manusia yang masih menjadi mahluk surga turun pangkat menjadi mahluk dunia karena Hawa memakan buah larangan. Demikian pula dalam mitologi Yunani tentang kisah kotak pandora yang dibuka oleh seorang wanita membawa malapetaka, wabah penyakit dan semua derita di dunia. Setelah diciptakan sebagai yang ke 2 kemudian wanita menjadi masalah bagi dunia. Demikian mitos tentang wanita sebagai mahluk kedua.
Dalam sejarah modern indonesia kita mengenal Kartini, sebagai sosok wanita jawa yang cerdas namun tertindas oleh budaya. Ia dipaksa menikah dengan bupati Rembang, budaya memaksanya hanya untuk menjadi 'kanca wingking'. Pikirannya yang progresif revolusioner di jamannya terekam dalam surat-suratnya yang dibukukan menjadi buku "habis gelap terbitlah terang". Ia bercita-cita memperjuangkan emansipasi, singkatnya persamaan hak. Pada masanya adalah hak untuk menentukan pilihan. Sekolah wanita yang dibuatnya merupakan bentuk resistensi terhadap subordinasi wanita.
Dunia kita saat ini dominasi patriarki sangatlah terasa. Perspektif keilmuan modern yang diderivasikan dari tradisi eropa secara implisit menyebut bahwa manusia hanyalah Laki-laki berkulit putih, beragama kristen dan berpendidikan modern. Diluar kategori itu hanyalah kurang manusia dan belum manusia sepenuhnya. Posisi wanita di tradisi eropa sekalipun masih sub ordinat. Bahkan secara satir, Jacques Lacan seorang filsuf-psikoanalis postrukturalis Perancis menyebut bahwa wanita itu tidak ada. Kuasa patriarkal dalam mendefinisikan dan memposisikan wanita hanya sebagai objek menjadi dasar pemikiran dari pernyataannya. Perlu diingat mendefinisikan berarti menguasai.
Era kontemporer semakin mempertegas posisi wanita sebagai yang subordinat dalam peradaban manusia. Tentunya semua pernah mendengar mengenai 3 masalah dunia yakni : harta, tahta dan wanita. Wanita menjadi masalah dunia. Ini menegaskan dunia adalah milik laki-laki. Agama juga tidak ketinggalan mendefinisikan wanita. Semua kitab suci agama samawi punya ayat-ayat seringkali ditafsirkan oleh laki-laki (karena menjadi imam?) mensubordinasikan wanita. Dalam islam hak poligami yang dimiliki laki-laki menegaskan dominasi patriarki. Baru-baru ini malah negara (lewat RUU pornografi) juga ikut-ikut untuk mensubordinasikan wanita sebagai penyebab kerusakan moral.
Kapitalisme juga tidak tanggung-tanggung dalam mengeksploitasi wanita. Industri kecantikan hingga hiburan berlomba mengukuhkan dominasi patriarki. Hampir seluruh tayangan iklan selalu memakai model wanita untuk menarik konsumen. Iklan produk perawatan tubuh wanita yang mendominasi televisi, selalu menawarkan citra kekaguman laki-laki atas wanita jika menggunakan produknya. Ini menunjukkan bahwa penghargaan atas wanita ditentukan oleh laki-laki. Lagi-lagi dominasi patriarki yang mereduksi posisi wanita sebagai manusia utuh.
Belenggu partiarki menjadikan tubuh dan pikiran wanita tidak pernah menjadi milik mereka sendiri dan penindasan itu bisa terjadi melalui agama, ideologi dan industri.
Selalu ada harapan, seperti dalam mitos dilemparkannya adam dan hawa. Mereka masih punya kesempatan untuk kembali ke surga. Dipertegas dalam doktrin agama, surga ada dibawah telapak kaki ibu. Dan, sampai saat ini semua ibu dari seorang anak adalah wanita. Demikian juga dengan Kotak Pandora, yang terakhir kali keluar adalah harapan. Seperti relief di Candi Sukuh dilereng Gunung Lawu menunjukkan simbol Yoni (kelamin wanita) yang menghadap ke Timur. Simbol ini bermakna harapan baru selalu muncul dari wanita, Timur adalah arah terbitnya matahari perumpamaan masa depan. Mendefinisikan adalah menguasai, maka berdayalah para wanita untuk menguasai dan mereproduksi wacana tentang dirinya.
Kamis, 28 Agustus 2008
Masjid
Masjid adalah tempat ibadah orang islam, dalam prakteknya tempat ibadah ini bisa menjadi sumber kekuasaan yang bisa jadi mempengaruhi posisi pemrakarsanya. Masjid di sebuah kompleks pemukiman adalah biasa. Sebagian besar masyarakat indonesia terutama di Jawa, adalah muslim. Wajar jika masjid dominan di permukiman di Jawa. Namun ada hal yang menarik dari masjid yang berdiri di pemukiman liar di perkotaan. Setelah rumah-rumah dibangun, kemudian masjid berdiri. Inilah yang saya lihat di kota kelahiran saya, solo. Pasca kerusuhan ’98 banyak pemukiman liar yang berdiri disepanjang bantaran sungai, lahan kosong dan rel kereta api.
Perhatian saya tertuju pada masjid masjid yang berdiri di pemukiman-pemukiman liar ini. Kenapa mereka (penghuni pemukiman liar) selalu membangun masjid. Hal ini saya temukan di dua pemukiman liar yang sering saya lewati, di dekat jembatan Kalianyar Ngemplak dan belakang kampus UNS Kentingan. Pernah juga sekali saya salat di masjid yang ada di pemukiman liar dibelakang UNS. Saya tergelitik untuk berpikir, sebenarnya telah ada masjid yang berada dekat dengan pemukiman ini tapi mengapa mereka membangun masjid sendiri. Awalnya jawaban saya standar saja, mereka butuh tempat untuk beribadah yang dekat. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya tentang pemaknaan terhadap suatu bangunan, saya mulai berpikir ulang.
Masjid adalah tempat ibadah muslim, yang selalu identik dengan Umat Islam. Ingatan saya tentang kerusuhan ’98 saya bongkar kembali, saat itu untuk mengamankan toko dari penjarahan dan pembakaran pemilik toko menuliskan pribumi muslim didepan atau tembok tokonya. Harapannya dengan memakai identitas muslim dan pribumi, harta benda pemilik toko menjadi aman. Sangat mungkin, sebagian besar orang kecewa yang rusuh merupakan bagian dari “umat islam” yang mayoritas, sehingga (harapannya) mereka tidak akan menyerang sesamanya. Jika di pemukiman liar ada masjid bukankan itu penegasan pada identitas ke-islaman yang lebih kuat. Siapa yang menyangkal jika, masjid adalah simbol terkuat dari umat islam, sebagai penanda kuasa atas ruang.
Makna yang terbangun dari adanya masjid di pemukiman liar adalah representasi adanya “umat islam” disana. Kemudian, dalam doktrin yang sering didengar oleh masyarakat: muslim harus membantu sesamanya karena mereka bersaudara. Kekuatan emosional yang terbangun dari adanya masjid sangat besar. Kekuatan ini akan sangat berguna pada saat otoritas atau pemilik tanah yang sah melakukan penertiban, masjid akan menaikkan daya tawar mereka. Apalagi jika penggusuran dilakukan secara paksa, konfliknya berpotensi untuk berkembang menjadi isu agama karena masjid ikut digusur. Di kota Solo yang sering disebut sebagai kota sumbu pendek ini sangat mungkin terjadi. Track record kerusuhan di kota ini mengkin yang paling panjang, paling tidak di Jawa Tengah.
Pikiran saya tentang masjid di pemukiman liar ini belum tentu benar, sangat mungkin saya salah. Bisa jadi tujuan para pemrakarsa masjid tersebut hanya untuk membangun tempat untuk beribadah. Namun, tetap saja bangunan merupakan monumen kepentingan manusia. Semisal Taj Mahal, sebuah masjid, tapi ia bukan sekedar tempat ibadah. Taj Mahal merupakan monumen cinta seorang raja pada permaisurinya dan sebagai bukti betapa berkuasanya raja saat iru. Saya pikir demikian halnya dengan masjid di pemukiman liar. Ia merupakan strategi pembentuk kekuatan (kekuasaan) dengan menggunakan ikatan emosional sebagai strategi pertahanan diri para penghuninya. Masjid tidak lagi berfungsi hanya sebagai tempat ibadah, ia bisa jadi menjadi legitimasi kuasa alternatif atas ruang.
Perhatian saya tertuju pada masjid masjid yang berdiri di pemukiman-pemukiman liar ini. Kenapa mereka (penghuni pemukiman liar) selalu membangun masjid. Hal ini saya temukan di dua pemukiman liar yang sering saya lewati, di dekat jembatan Kalianyar Ngemplak dan belakang kampus UNS Kentingan. Pernah juga sekali saya salat di masjid yang ada di pemukiman liar dibelakang UNS. Saya tergelitik untuk berpikir, sebenarnya telah ada masjid yang berada dekat dengan pemukiman ini tapi mengapa mereka membangun masjid sendiri. Awalnya jawaban saya standar saja, mereka butuh tempat untuk beribadah yang dekat. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya tentang pemaknaan terhadap suatu bangunan, saya mulai berpikir ulang.
Masjid adalah tempat ibadah muslim, yang selalu identik dengan Umat Islam. Ingatan saya tentang kerusuhan ’98 saya bongkar kembali, saat itu untuk mengamankan toko dari penjarahan dan pembakaran pemilik toko menuliskan pribumi muslim didepan atau tembok tokonya. Harapannya dengan memakai identitas muslim dan pribumi, harta benda pemilik toko menjadi aman. Sangat mungkin, sebagian besar orang kecewa yang rusuh merupakan bagian dari “umat islam” yang mayoritas, sehingga (harapannya) mereka tidak akan menyerang sesamanya. Jika di pemukiman liar ada masjid bukankan itu penegasan pada identitas ke-islaman yang lebih kuat. Siapa yang menyangkal jika, masjid adalah simbol terkuat dari umat islam, sebagai penanda kuasa atas ruang.
Makna yang terbangun dari adanya masjid di pemukiman liar adalah representasi adanya “umat islam” disana. Kemudian, dalam doktrin yang sering didengar oleh masyarakat: muslim harus membantu sesamanya karena mereka bersaudara. Kekuatan emosional yang terbangun dari adanya masjid sangat besar. Kekuatan ini akan sangat berguna pada saat otoritas atau pemilik tanah yang sah melakukan penertiban, masjid akan menaikkan daya tawar mereka. Apalagi jika penggusuran dilakukan secara paksa, konfliknya berpotensi untuk berkembang menjadi isu agama karena masjid ikut digusur. Di kota Solo yang sering disebut sebagai kota sumbu pendek ini sangat mungkin terjadi. Track record kerusuhan di kota ini mengkin yang paling panjang, paling tidak di Jawa Tengah.
Pikiran saya tentang masjid di pemukiman liar ini belum tentu benar, sangat mungkin saya salah. Bisa jadi tujuan para pemrakarsa masjid tersebut hanya untuk membangun tempat untuk beribadah. Namun, tetap saja bangunan merupakan monumen kepentingan manusia. Semisal Taj Mahal, sebuah masjid, tapi ia bukan sekedar tempat ibadah. Taj Mahal merupakan monumen cinta seorang raja pada permaisurinya dan sebagai bukti betapa berkuasanya raja saat iru. Saya pikir demikian halnya dengan masjid di pemukiman liar. Ia merupakan strategi pembentuk kekuatan (kekuasaan) dengan menggunakan ikatan emosional sebagai strategi pertahanan diri para penghuninya. Masjid tidak lagi berfungsi hanya sebagai tempat ibadah, ia bisa jadi menjadi legitimasi kuasa alternatif atas ruang.
Minggu, 03 Agustus 2008
Pertandingan Olah Raga: Ruang Baru Nasionalisme
Benar kata Kenz, ia bilang ada nasionalisme dalam sepakbola. Namun, perlu diingat itu hanya terjadi selama event berlangsung, tidak setiap saat. Dalam berbagai event olahraga kini menjadi ruang bagi nasionalisme. Bulu tangkis bisa jadi merupakan fondasi nasionalisme Indonesia yang tersisa saat ini. Walaupun sudah meredup, paling tidak Indonesia masih diperhitungkan. Sepakbola sepertinya terlalu susah menyulut nasionalisme secara intensif, beda jika menjadi penyulut kerusuhan, ia sangatlah konsisten. Sederhananya, menurut saya, nasionalisme adalah euforia ia bisa redup-terang, pasang-surut, timbul-tenggelam. Nasionalisme selalu membutuhkan ruang untuk meng-ada, olahraga adalah salah satunya. Jika nasionalisme masih diinginkan dan dibutuhkan, ruang-ruang baru harus selalu dibuka dan diciptakan. Saya tekankan olahraga hanya salah satunya. dan lagi, jika nasionalisme hanya digantungkan pada olahraga. Akan bagus jika menang, tapi bagaimana jika kalah. Nasionalisme tetap ada tapi meredup, jika terus kalah akan makin redup, bukan mustahil suatu saat padam. Nasionalisme adalah imajinasi bagi rasa berbangsa, bernegara dan bertanah air. Jika nasionalisme itu padam, maka tak ada lagi bangsa, negara dan tanah air.
Ada hal menarik tentang nasionalisme dalam bulutangkis. Ini terkait dengan diskriminasi terhadap ras cina. Semua orang Indonesia tahu, atlit bulutangkis dari Liem Swei King sampai kini, banyak atlitnya keturunan cina. Secara de jure mereka adalah orang indonesia, namun mereka tetap memiliki tambahan label keturunan. Selama even pertandingan bulutangkis berlangsung, mereka menjadi sangat Indonesia. Perbedaan mereka yang keturunan menjadi lebur dalam "Indonesia". Seluruh negeri menjadi satu dalam nasionalisme. Jika menang nasionalisme membumbung tinggi, ingat saat Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma meraih emas tunggal putri dan putra dalam olimpiade. Seluruh negeri memuji mereka, tidak lagi memandang mereka keturunan cina atau pribumi, mereka Indonesia dan kita Indonesia, mari kita rayakan nasionalisme. Begitulah cerita kecil kebhinekaan dalam ruang olahraga yang menghidupkan nasionalisme. Semoga cerita kecil ini sering diungkap, supaya nasionalisme saat redup tak lagi mendua, menjadi pribumi dan keturunan.
Ada pula nasionalisme terjadwal, reguler, sebuah perayaan hari kemerdekaan yang sebentar lagi kita rayakan- ini juga sebuah ruang yang masih bisa menjadi persinggahan nasionalisme untuk mengada.
Ditulis di Loji Gandrung Solo.
Ada hal menarik tentang nasionalisme dalam bulutangkis. Ini terkait dengan diskriminasi terhadap ras cina. Semua orang Indonesia tahu, atlit bulutangkis dari Liem Swei King sampai kini, banyak atlitnya keturunan cina. Secara de jure mereka adalah orang indonesia, namun mereka tetap memiliki tambahan label keturunan. Selama even pertandingan bulutangkis berlangsung, mereka menjadi sangat Indonesia. Perbedaan mereka yang keturunan menjadi lebur dalam "Indonesia". Seluruh negeri menjadi satu dalam nasionalisme. Jika menang nasionalisme membumbung tinggi, ingat saat Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma meraih emas tunggal putri dan putra dalam olimpiade. Seluruh negeri memuji mereka, tidak lagi memandang mereka keturunan cina atau pribumi, mereka Indonesia dan kita Indonesia, mari kita rayakan nasionalisme. Begitulah cerita kecil kebhinekaan dalam ruang olahraga yang menghidupkan nasionalisme. Semoga cerita kecil ini sering diungkap, supaya nasionalisme saat redup tak lagi mendua, menjadi pribumi dan keturunan.
Ada pula nasionalisme terjadwal, reguler, sebuah perayaan hari kemerdekaan yang sebentar lagi kita rayakan- ini juga sebuah ruang yang masih bisa menjadi persinggahan nasionalisme untuk mengada.
Ditulis di Loji Gandrung Solo.
Kamis, 31 Juli 2008
Gerutuan Nasionalisme
Saya pernah bilang pada seorang teman tentang nasionalisme. Sederhana, " sebenarnya saya juga ingin menjadi nasionalis tapi sayang, saya tak pumya bakat jadi orang indonesia". Perkataan ini spontan,tapi setelah berpikir tentang ke-Indonesiaan mainstream (umum) dan dibandingkan dengan studi post-kolonial jadi tak lagi tampak sederhana. Bagaimana bisa muncul ke-Indonesiaan sedangkan dalam perjanjian internasional yang menjadikan Indonesia ada adalah legitimasi teritori bekas pendudukan Belanda. Artinya tanpa ada Belanda Indonesia tidak akan ada.
Pemikiran tentang Indonesia hingga berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara tak pernah bisa lepas dari Belanda. Darimana rasa ke-Indonesiaan bisa lahir jika sebelumnya konfrontasi bersenjata yang selanjutnya disebut perjuangan kemerdekaan sejatinya tidaklah punya gambaran tentang Indonesia. Gambaran tentang negara, nasionalisme dan rasa kebangsaan diakui atau tidak diperoleh dari meng-copy pemikiran Belanda.
Nasionalisme Sukarno yang identik dengan Ernest Renan, mengandaikan bahwa bangsa Indonesia lahir karena kesamaan nasib tampaknya tak sepenuhnya benar. Pertanyaannya adalah apakah memang ada kesamaan nasib bagi orang-orang yang hidup selama Indonesia masih disebut sebagai Hindia Belanda. Tidak juga, ada yang sangat menderita karena menjalani kerja paksa, tetapi ada pula yang hidup berkelebihan sebagai pejabat maupun pengusaha, kemudian dimana kesamaan nasib sebagai yang "terjajahnya". Sebenarnya rasa kebangsaan merupakan produk massal pada jaman itu, tentang kesadaran atas identitas nasional yang mengafirmasikan kepentingan tiap orang untuk imaji "kesetaraan".
Melacak jejak nasionalisme mungkin kita tak bisa lepas dari Soewardi Soerjaningrat, yang menuliskan imajinya tentang ke-Indonesiaan dengan mengandaikan dirinya sebagai seorang Belanda (As Ijk Nederlander Was). Dengan mengandaikan sebagai seorang Belanda dia mereproduksi rasa kebangsaan Indonesia. Seorang Belanda harus memiliki rasa cinta pada Negerinya, dan mau berkorban untuk negerinya. Rasa tersebut memberikan identitas sebagai bangsa. Dengan mengandaikan adanya identitas Belanda yang bersumberkan dari keberadaan suatu negara. Maka Soewardi, mengandaikan adanya suatu negara yang akan menciptakan ruang bagi dirinya untuk berkebangsaan, bisa jadi ini adalah asal muasal nasionalisme. Imajinasi nasionalisme ini ternyata berkembang dan tak hanya dimiliki oleh Soewardi dan direproduksi kembali melalui wacana yang menciptaka imaji kolektif tentang rasa kebangsaan. Melalui koran, pamflet dan mungkin juga bincang-bindag di warung kopi. Meloncat ke saat ini, menurut saya, bangsa dan negara ini ada karena masih banyak orang yang berimajinasi tentang Indonesia. Secara de jure bisa dikatakan negara ini sudah tidak ada, terlalu banyak undang-undang yang menjadi fondasi berdirinya ditelikung dan diacuhkan. Mungkin demikian adanya, bagaimana menurut anda.
Pemikiran tentang Indonesia hingga berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara tak pernah bisa lepas dari Belanda. Darimana rasa ke-Indonesiaan bisa lahir jika sebelumnya konfrontasi bersenjata yang selanjutnya disebut perjuangan kemerdekaan sejatinya tidaklah punya gambaran tentang Indonesia. Gambaran tentang negara, nasionalisme dan rasa kebangsaan diakui atau tidak diperoleh dari meng-copy pemikiran Belanda.
Nasionalisme Sukarno yang identik dengan Ernest Renan, mengandaikan bahwa bangsa Indonesia lahir karena kesamaan nasib tampaknya tak sepenuhnya benar. Pertanyaannya adalah apakah memang ada kesamaan nasib bagi orang-orang yang hidup selama Indonesia masih disebut sebagai Hindia Belanda. Tidak juga, ada yang sangat menderita karena menjalani kerja paksa, tetapi ada pula yang hidup berkelebihan sebagai pejabat maupun pengusaha, kemudian dimana kesamaan nasib sebagai yang "terjajahnya". Sebenarnya rasa kebangsaan merupakan produk massal pada jaman itu, tentang kesadaran atas identitas nasional yang mengafirmasikan kepentingan tiap orang untuk imaji "kesetaraan".
Melacak jejak nasionalisme mungkin kita tak bisa lepas dari Soewardi Soerjaningrat, yang menuliskan imajinya tentang ke-Indonesiaan dengan mengandaikan dirinya sebagai seorang Belanda (As Ijk Nederlander Was). Dengan mengandaikan sebagai seorang Belanda dia mereproduksi rasa kebangsaan Indonesia. Seorang Belanda harus memiliki rasa cinta pada Negerinya, dan mau berkorban untuk negerinya. Rasa tersebut memberikan identitas sebagai bangsa. Dengan mengandaikan adanya identitas Belanda yang bersumberkan dari keberadaan suatu negara. Maka Soewardi, mengandaikan adanya suatu negara yang akan menciptakan ruang bagi dirinya untuk berkebangsaan, bisa jadi ini adalah asal muasal nasionalisme. Imajinasi nasionalisme ini ternyata berkembang dan tak hanya dimiliki oleh Soewardi dan direproduksi kembali melalui wacana yang menciptaka imaji kolektif tentang rasa kebangsaan. Melalui koran, pamflet dan mungkin juga bincang-bindag di warung kopi. Meloncat ke saat ini, menurut saya, bangsa dan negara ini ada karena masih banyak orang yang berimajinasi tentang Indonesia. Secara de jure bisa dikatakan negara ini sudah tidak ada, terlalu banyak undang-undang yang menjadi fondasi berdirinya ditelikung dan diacuhkan. Mungkin demikian adanya, bagaimana menurut anda.
Senin, 28 Juli 2008
Peri-Urban dan Perebutan Ruang: Kasus Semarang Atas
Tumbuhnya permukiman dipinggiran kota merupakan suatu hal yang telah dipandang lazim dalam perkembangan kota. Perkembangan kota yang terjadi ke arah pinggiran disebut urban sprawl. Sedangkan daerah hasil perkembangan tersebut disebut sebagai daerah peri-urban atau sub urban. Kota Semarang juga mengalami pertumbuhan kota yang membentuk peri-urban. Dalam keseharian masyarakat Semarang dikenal pembagian Semarang Atas dan Semarang Bawah. Semarang Atas merupakan kawasan sub-urban dari Semarang Bawah. Perkembangan kawasan peri urban ini dimulai dari dibangunnya Perumnas Banyumanik. Kemudian perkembangan ini semakin pesat didorong oleh pembangunan kampus Undip di Tembalang. Pengaruh yang mendasari perkembangan ke arah pinggiran kota juga didorong oleh kondisi kota inti yang sudah padat dengan tingkat polusi tinggi dan mahalnya harga lahan.
Daldjoeni (1992) mengutip Whynne-Hammond, menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peri-urban sebagai berikut:
1.Peningkatan pelayanan transportasi kota. Tersedianya angkutan umum memudahkan orang untuk bertempat tinggal jauh dari tempat kerjanya.
2.Perpindahan penduduk dari pusat kota ke pinggiran kota dan masuknya penduduk baru yang berasal dari perdesaan.
3.Meningkatnya taraf hidup masyarakat yang memungkinkan orang mendapatkan perumahan yang lebih layak.
4.Gerakan pendirian rumah oleh masyarakat. Pemerintah membantu masyarakat yang akan mendirikan rumah lewat pinjaman bank.
5.Dorongan hakikat manusia memperoleh kenyamanan.
Menjelaskan pertumbuhan suburban yang terjadi di Kota Semarang Atas, dampak faktor peningkatan transportasi bukan pada transportasi umum, namun lebih pada aksesibilitas transportasi terutama jalan. Untuk moda transportasinya ada pada kemudahan kepemilikan kendaraan pribadi. Sebagian besar penduduk sub-urban di Semarang Atas adalah commuter (penglaju), hal ini bisa dilihat dari banyaknya arus kendaraan saat jam berangkat dan pulang kerja. Akibatnya kemacetan yang dulunya hanya ada di pusat kota mulai muncul di daerah pinggiran.
Pada awalnya pertimbangan pembangunan perumahan (Perumnas Banyumanik) hanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Selanjutnya dorongan hakikat manusia untuk memperoleh kenyamanan menjadi pendorong meningkatnya pembangunan perumahan di kawasan Semarang Atas. Meningkatnya aksesibilitas dengan adanya jalan tol menuju pusat kota membuat nilai ekonomi dari lahan di Semarang Atas semakin meningkat. Kenyamanan dan kemudahan akses menjadi senjata pengembang properti untuk berinvestasi di daerah ini. Selain itu, pendanaanan untuk pembangunan perumahan juga didukung oleh bank dalam kredit skala besar untuk pengembang dan KPR bagi masyarakat.
Permasalahan Segregasi Sosial di Suburban Semarang Atas
Walaupun perkembangan terjadi di daerah pinggiran, hal tersebut tidak serta merta membawa kesejahteraan bagi penduduk lokal. Secara perhitungan ekonomi di atas kertas pertumbuhan kawasan pinggiran menghasilkan eksternalitas yang besar, tumbuhnya investasi membuka kesempatan kerja. Pertanian yang dahulu mendominasi daerah pinggiran kota dengan perputaran uang yang lambat digantikan oleh sektor perdagangan dan jasa yang mengalir cepat. Secara perhitungan ekonomi hal ini dapat dibenarkan. Namun dengan sudut pandang sosial, eksternalitas masalah baru yang ditimbulkan dari perkembangan sub urban ini bisa jadi lebih besar dibandingkan eksternalitas ekonominya.
In areas of our cities, where poverty and social diversity are concentrated, the sign of stressed are pervesive, in the routinisation of voilence, alternation and anger of crime and stigma. This reinforce exclusionary tendencies encouraging a defensife sense among “better of” labelling these stressed neighbourhoods as “outside”, not part of the “main stream” and “other”[...], to tendency for the more affivent and more favoured groups move to the neighbourhoods where other like them live, most notably in urban peryphery. [...]. The result is increasing social spatial segregation and metropolitan decentralisation (Soja, 1989; CEC, 1992c)
Peri-urban, dalam hal ini Semarang Atas (Banyumanik dan Tembalang) menjadi tempat “pelarian” penduduk yang menginginkan kenyamanan karena kondisi pusat kota yang menurun dan tak lagi aman. Perpindahan penduduk ke kawasan sub urban ini berjalan dengan cepat. Akibat awalnya muncul dikotomi antara penduduk asli dan pendatang. Kemudian, penduduk pendatanglah yang akhirnya mendominasi kawasan ini dengan jalan peralihan kepemilikan lahan. Penduduk asli yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan berbudaya agraris terbawa dalam kondisi urbanized. Proses berikutnya adalah datangnya penduduk dari luar kota untuk bekerja, terutama di sektor informal di sekitar kawasan sub urban. Kawasan perumahan dan kampus menjadi pendukung utama berkembangnya sektor informal di kawasan sub urban Semarang Atas. Usaha sektor informal sebagian besar didominasi oleh makanan yang dijual di kaki lima.
Perubahan budaya yang cepat tidak sanggup diikuti oleh penduduk asli. Lahan pertanian sebagai aset penduduk asli telah terjual, hasilnya hanya diperuntukkan untuk kegiatan konsumtif. Sedangkan yang masih mempertahankan tanahnya untuk pertanian semakin terdesak oleh lahan terbangun. Penduduk asli tampaknya tidak siap dengan perubahan ini. Budaya agraris yang melatarbelakangi kebiasaan ekonomi menjadikan mereka tidak sanggup mengimbangi kecepatan perputaran ekonomi akibat perubahan yang terjadi. Aset lahan yang terjual tidak digunakan secara produktif, hanya untuk kebutuhan konsumsi. Sedangkan tanah yang terjual telah menjadi perumahan dan tempat usaha bagi penduduk pendatang. Rumah kos, ruko-ruko dan warung kaki lima adalah tempat usaha yang tumbuh dari perubahan di kawasan ini. Eksternalitas ekonomi yang muncul tidak dinikmati oleh penduduk asli.
Munculnya perumahan-perumahan baru di kawasan ini semakin memperjelas kondisi segregasi secara spasial, dimulai dari konversi lahan pertanian menjadi perumahan. Dalam satu perumahan sendiri, terbagi dalam zona-zona berdasarkan tipe rumah, dan kompleks perumahan merupakan entitas tertutup, ditandai dengan adanya pagar dan gerbang pintu masuk dan keluar. Secara spasial perumahan-perumahan ini merupakan bagian yang terpisah dari lingkungan di luar batas-batasnya. Rancangan perumahan semacam ini didasarkan pada pandangan bahwa keamanan dan kenyamanan penghuninya dapat diperoleh dengan cara ini. Jarak sosial yang dimanifestasikan dalam ruang spasial tercipta dari rancangan perumahan yang tertutup semacam ini. Selain itu, perumahan-perumahan yang dibangun memiliki segmentasi pasar yang berbeda, namun sebagian besar ditujukan pada kelas menengah keatas. Jadi dapat dikatakan bahwa penghuni perumahan adalah orang-orang yang mapan secara ekonomi. Segregasi semacam ini semakin menciptakan kesenjangan yang terjadi. Kenyamanan hanya akan dimiliki oleh penghuni perumahan, sedangkan di luarnya sudah ditemui permasalahan yang sama dengan kota inti. Hal ini berarti bahwa akibat dari perkembangan kawasan sub urban, permasalahan perkotaan yang berupa kesenjangan telah meluas ke daerah pinggiran. Penduduk asli hanya menjadi penonton perkembangan sekaligus korban dari permasalahan yang terjadi, tanpa diberikan jalan keluar.
Permasalahan Lingkungan Akibat tumbuhnya Suburban Semarang Atas
Terkonversinya lahan pertanian menjadi lahan terbangun secara langsung berakibat pada lingkungan. Pengaruh langsung yang dapat dirasakan adalah meningkatnya arus transportasi yang mengikuti perubahan aktivitas penduduk. Ketergantungan pada kendaraan pribadi mengakibatkan kapasitas jalan tidak lagi sebanding dengan jumlah kendaraan. Kemacetan seringkali terjadi pada jam-jam sibuk terutama pada simpul-simpul jalan menuju pusat kota. Kasus yang terjadi di suburban Semarang Atas yaitu adanya bangkitan transportasi dua arah, yakni dari Semarang Atas menuju pusat kota dan sebaliknya. Arus pergerakan ke bawah didominasi oleh penduduk suburban yang bekerja di pusat kota dan arus ke atas didominasi oleh mahasiswa yang belajar di Kampus Tembalang. Pertemuan dua arus ini pada jam sibuk terlihat pada simpul-simpul Jl. Setiabudi - Jl. Prof Soedarto dan Pasar Jatingaleh. Polusi udara adalah akibat langsung dari penggunaan kendaraan pribadi yang semakin meningkat.
Pada kawasan suburban Semarang Atas sendiri (Banyumanik dan Tembalang), pembangunan perumahan dan sarana komersial seringkali tidak sebanding dengan infrastruktur pendukung, terutama infrastruktur jalan. Terlihat bahwa kapasitas jalan terutama Jl. Prof Soedarto tidak lagi sebanding dengan jumlah kendaraan. Jalan sekaligus dimanfaatkan juga sebagai lahan parkir. Ditambah lagi dipertemuan antara Jl. Prof Soedarto dengan Jl. Setiabudi digunakan untuk pangkalan angkot liar yang menambah kesemarawutan. Angkot yang mangkal di lokasi tersebut melayani jalur Ngesrep menuju Undip Tembalang, menyalahi trayek yang seharusnya menuju Gedawang.
Bagian lain dari jalan yakni sempadan dimanfaatkan oleh PKL sebagai tempat berjualan sebagian besar telah ditutup perkerasan. Bahkan saluran drainase yang sudah ada menjadi tidak berfungsi karena ditutup dengan beton, dengan tujuan memperluas tempat berjualan. Jalan yang tidak lagi memiliki kelengkapan berupa sempadan dan drainase, akibatnya sering muncul genangan setelah hujan. Kerusakan jalan terus terjadi pada musim hujan, terutama di jalan yang tergenang air.
Walaupun permasalahan demi permasalahan terus berkembang, konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun terus berjalan. Saat ini masih berjalan proyek pengurukan sawah di daerah Tembalang Selatan untuk perumahan Graha Estetika. Pengurukan ini merupakan bagian dari proyek pembangunan tahap II perumahan Graha Estetika yang dimulai sejak tahun 2006. Proyek ini sempat mengalami masalah karena belum ada ijin AMDAL-nya saat dimulai (Suara Merdeka, 18/10/2008). Tampaknya permasalahan izin tersebut sudah selesai karena pengurukan telah berjalan kembali hingga saat ini. Namun, berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh pengurukan tersebut tidak pernah diperhatikan, dua ruas jalan (Jl. Mulawarman dan Jl. Durian Raya) yang menjadi jalur pengiriman tanah uruk mengalami kerusakan karena tidak sanggup menanggung beban muatan truk. Selain itu, sawah lain yang tidak menjadi bagian dari proyek pengurukan tergenang air. Genangan ini muncul karena saluran air tertutup oleh pengurukan. Sawah yang tergenang tersebut tidak lagi bisa ditanami.
Kepemilikan lahan sawah yang diuruk tersebut terbagi menjadi 4 yakni: PT Dasa Wilis (Pengembang Graha Estetika), Dinas Pertanian, Eks Bengkok Kelurahan Bulusan dan Kramas. Petani menggarap lahan tersebut dengan membayar imbalan kepada pemilik. Mereka yang menggarap lahan milik PT Dasa Wilis Raya, membayar sejumlah uang yang diistilahkan sebagai uang bantuan pajak. Besarnya tergantung luasan lahan dan hasil panen. Sementara, petani yang menggarap lahan milik Dinas Pertanian, menggunakan sistem maro. Namun, pihak Dinas memberi bantuan bibit dan pestisida (www.matabumi.com/news/minggu,23/03/2008). Karena sawah tergenang, petani tidak lagi bisa memperoleh penghasilan. Sawah yang biasanya menghasilkan panen dua kali setahun, tidak lagi bisa ditanami. Sangat mungkin jika lahan sawah yang tersisa tersebut akan menjadi korban konversi selanjutnya karena sudah tidak bisa lagi ditanami dan telah terkepung lahan terbangun. Petani yang merupakan penduduk asli semakin terpinggirkan. Perkembangan yang sebagian orang kira sebagai kemajuan pembangunan ternyata mengorbankan sebagian manusia, dalam hal ini penduduk asli.
Ternyata bukan hanya manusia yang menjadi korban perkembangan di sub urban Semarang Atas. Konversi lahan juga merusak ekosistem hewan, salah satunya adalah burung kuntul. Pepohonan di sepanjang Jalan Setiabudi yang dulunya ramai dihinggapi burung kuntul yang kini kian sedikit. Padahal, burung kuntul tersebut telah menjadi bagian dari identitas Kota Semarang Atas.
Menurut laporan Suara Merdeka (7/11/2007), populasi burung kuntul yang ada di Jl. Setiabudi menyusut. Pada akhir tahun 1990-an jumlahnya mencapai 1.000 ekor, kini yang bertahan di tempat itu tinggal 200-an ekor. Dalam laporan tersebut, Dosen Jurusan Biologi Undip, Karyadi Baskoro SSi, MSi. menjelaskan bahwa berkurangnya populasi burung kuntul di Srondol itu akibat maraknya alih fungsi lahan di Kota Semarang. Sawah, tambak, rawa, dan kawasan pesisir yang menjadi tempat mereka mencari makanan, banyak didirikan bangunan. Akibatnya, unggas sejenis bangau berbulu putih itu memilih tinggal di tempat lain yang lebih dekat dengan sumber makanan. Menurut pengamatan Karyadi, burung-burung tersebut kini pindah ke daerah Sayung, Demak.Perlu diketahui, makanan burung kuntul adalah ikan, binatang laut, siput, katak, dan ular. Di tempat barunya makanan mereka mudah untuk ditemukan. Ini menolak anggapan bahwa hilangnya burung kuntul tersebut diakibatkan meningkatnya kebisingan, karena burung ini tidak peka terhadap suara.
Burung kuntul yang terdapat di pepohonan sepanjang Jalan Setiabudi Srondol adalah empat dari enam jenis burung kuntul yang ada di dunia (Kompas, 04/6/2004). Yaitu, kuntul besar (Egretta alba), kuntul perak (Egretta intermedia), kuntul kecil (Egretta garzetta), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis). Dari keempat jenis itu, kuntul besar paling banyak jumlahnya. Dahulu di pepohonan sepanjang jalan banyak kuntul yang bertengger, kini hanya terpusat pohon asam jawa di depan gerbang Banteng Raider. Sangat disayangkan jika burung kuntul ini menghilang dari pepohonan di sepanjang jalan Setiabudi Srondol. Namun, kecenderungan konversi lahan yang terjadi di kawasan Tembalang dan Banyumanik makin mempersempit tempat hidup burung-burung ini.
Kesimpulan
Pertumbuhan sub urban Kota Semarang Atas (Banyumanik dan Tembalang) menunjukkan bahwa perkembangan kota ke arah pinggiran mengakibatkan beberapa permasalahan utama:
1.Tersisihnya penduduk asli yang telah kehilangan lahan pertanian sekaligus mata pencahariannya.
2.Meningkatnya kesenjangan sosial yang tampak dari adanya segregasi spasial dari pemisahan permukiman berdasarkan kelas ekonomi.
3.Degradasi lingkungan yang mengancam keberadaan identitas kota (burung kuntul) di sepanjang jalan Setiabudi.
4.Kemampuan infrastruktur perkotaan (Transportasi umum, Jalan dan Drainase) yang tidak bisa mengikuti laju perkembangan.
Perkembangan sub urban Semarang atas menunjukkan bahwa permasalahan perkotaan telah meluas. Degradasi lingkungan di kawasan ini mengakibatkan rasa nyaman untuk tinggal hanya diperoleh di perumahan-perumahan elit. Sedangkan di luarnya, kenyamanan tersebut tidak lagi dapat diperoleh.
Pertumbuhan di kawasan sub urban memang memberikan keuntungan yang besar secara ekonomi. Perkembangan yang dimotori sektor properti akan menggerakkan sektor riil yang memutar roda perekonomian. Namun, kemampuan adaptasi dari penduduk asli seharusnya juga mendapatkan perhatian dari otoritas, dalam hal ini pemerintah kota.
Rencana Tata Ruang (RDTRK Kota Semarang 2000-2010) memang telah menetapkan wilayah Tembalang dan Banyumanik sebagai daeah pengembangan Permukiman. Berbagai persyaratan rencana pengembangan telah ada di dalamya, termasuk dalam hal pengendalian lingkungan. Namun, Perda hanya menjadi aturan normatif yang tidak dijalankan. Kondisi di lapangan lebih memperlihatkan bahwa perkembangan wilayah ini lebih dikendalikan oleh pasar. Padahal, sistem ekonomi pasar selalu mereduksi nilai ruang hanya berdasarkan pada nilai nominalnya.
Jika dibiarkan tanpa adanya intervensi dari pemerintah kota selaku pemegang kewenangan, bukan tidak mungkin jika perkembangan ini akan memperluas permasalahan perkotaan yang mungkin tidak akan pernah terselesaikan. Intervensi awal yang mungkin bisa dilakukan adalah merevisi rencana tata ruang yang ada. Namun, revisi rencana tata ruang yang terjadi selama ini hanya dilakukan untuk kepentingan proyek, misalnya dalam kasus Banyumanik dan Tembalang ialah pembangunan tol Semarang-Solo. Mungkin benar yang dikatakan oleh Jean Hillier jika land use planning (perencanaan) hanyalah allegory of prudence. Peranan otoritas kekuasaanlah yang paling berperan disaat partisipasi dalam pembangunan tidak terjadi.
Bacaan
Bappeda Kota Semarang. RDTRK Kota Semarang 2000-2010.
Daljoeni, N. 1999. Geografi Baru. Alumni: Bandung.
Empat dari Enam Kuntul di Dunia Ada di Srondol Kompas. Senin, 14 Juni 2004. Available at : www.kompas.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Graha Estetika : Nyaman Huniannya, Tinggi Nilai Investasinya Kompas.Jumat, 28 Desember 2007. Available at : www.kompas.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Healey, Patsy et all (ed). 1997. Managing City: The New Urban Context. John Wiley & Sons, Inc: New York.
Hillier, Jean. 2002. Shadow of Power: An Allegory of Prudence in Land Use Planning. Routledge: London
Lahan Diuruk, Sawah Tergenang. Edisi Minggu, 23 Maret 2008. Available at : www.matabumi.com . Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Nurmadi, Ahmad. 1999. Manajemen Perkotaan: Aktor, organisasi dan pengelolaan daerah perkotaan di Indonesia. Lingkaran: Yogyakarta.
Paddison, Ronan (ed). 2001. Handbook of Urban Studies. SAGE Publication Ltd: London.
Palen, J John. 1995. The Suburbs. Mc Graw Hill Inc: New York.
Pengurukan Belum Mengantongi Amdal. Suara Merdeka Edisi Rabu, 18 Oktober 2006. Available at : www.suaramerdeka.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Populasi Kuntul Kian Menyusut. Suara Merdeka Edisi Rabu, 07 Nopember 2007. Available at : www.suaramerdeka.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Daldjoeni (1992) mengutip Whynne-Hammond, menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peri-urban sebagai berikut:
1.Peningkatan pelayanan transportasi kota. Tersedianya angkutan umum memudahkan orang untuk bertempat tinggal jauh dari tempat kerjanya.
2.Perpindahan penduduk dari pusat kota ke pinggiran kota dan masuknya penduduk baru yang berasal dari perdesaan.
3.Meningkatnya taraf hidup masyarakat yang memungkinkan orang mendapatkan perumahan yang lebih layak.
4.Gerakan pendirian rumah oleh masyarakat. Pemerintah membantu masyarakat yang akan mendirikan rumah lewat pinjaman bank.
5.Dorongan hakikat manusia memperoleh kenyamanan.
Menjelaskan pertumbuhan suburban yang terjadi di Kota Semarang Atas, dampak faktor peningkatan transportasi bukan pada transportasi umum, namun lebih pada aksesibilitas transportasi terutama jalan. Untuk moda transportasinya ada pada kemudahan kepemilikan kendaraan pribadi. Sebagian besar penduduk sub-urban di Semarang Atas adalah commuter (penglaju), hal ini bisa dilihat dari banyaknya arus kendaraan saat jam berangkat dan pulang kerja. Akibatnya kemacetan yang dulunya hanya ada di pusat kota mulai muncul di daerah pinggiran.
Pada awalnya pertimbangan pembangunan perumahan (Perumnas Banyumanik) hanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Selanjutnya dorongan hakikat manusia untuk memperoleh kenyamanan menjadi pendorong meningkatnya pembangunan perumahan di kawasan Semarang Atas. Meningkatnya aksesibilitas dengan adanya jalan tol menuju pusat kota membuat nilai ekonomi dari lahan di Semarang Atas semakin meningkat. Kenyamanan dan kemudahan akses menjadi senjata pengembang properti untuk berinvestasi di daerah ini. Selain itu, pendanaanan untuk pembangunan perumahan juga didukung oleh bank dalam kredit skala besar untuk pengembang dan KPR bagi masyarakat.
Permasalahan Segregasi Sosial di Suburban Semarang Atas
Walaupun perkembangan terjadi di daerah pinggiran, hal tersebut tidak serta merta membawa kesejahteraan bagi penduduk lokal. Secara perhitungan ekonomi di atas kertas pertumbuhan kawasan pinggiran menghasilkan eksternalitas yang besar, tumbuhnya investasi membuka kesempatan kerja. Pertanian yang dahulu mendominasi daerah pinggiran kota dengan perputaran uang yang lambat digantikan oleh sektor perdagangan dan jasa yang mengalir cepat. Secara perhitungan ekonomi hal ini dapat dibenarkan. Namun dengan sudut pandang sosial, eksternalitas masalah baru yang ditimbulkan dari perkembangan sub urban ini bisa jadi lebih besar dibandingkan eksternalitas ekonominya.
In areas of our cities, where poverty and social diversity are concentrated, the sign of stressed are pervesive, in the routinisation of voilence, alternation and anger of crime and stigma. This reinforce exclusionary tendencies encouraging a defensife sense among “better of” labelling these stressed neighbourhoods as “outside”, not part of the “main stream” and “other”[...], to tendency for the more affivent and more favoured groups move to the neighbourhoods where other like them live, most notably in urban peryphery. [...]. The result is increasing social spatial segregation and metropolitan decentralisation (Soja, 1989; CEC, 1992c)
Peri-urban, dalam hal ini Semarang Atas (Banyumanik dan Tembalang) menjadi tempat “pelarian” penduduk yang menginginkan kenyamanan karena kondisi pusat kota yang menurun dan tak lagi aman. Perpindahan penduduk ke kawasan sub urban ini berjalan dengan cepat. Akibat awalnya muncul dikotomi antara penduduk asli dan pendatang. Kemudian, penduduk pendatanglah yang akhirnya mendominasi kawasan ini dengan jalan peralihan kepemilikan lahan. Penduduk asli yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan berbudaya agraris terbawa dalam kondisi urbanized. Proses berikutnya adalah datangnya penduduk dari luar kota untuk bekerja, terutama di sektor informal di sekitar kawasan sub urban. Kawasan perumahan dan kampus menjadi pendukung utama berkembangnya sektor informal di kawasan sub urban Semarang Atas. Usaha sektor informal sebagian besar didominasi oleh makanan yang dijual di kaki lima.
Perubahan budaya yang cepat tidak sanggup diikuti oleh penduduk asli. Lahan pertanian sebagai aset penduduk asli telah terjual, hasilnya hanya diperuntukkan untuk kegiatan konsumtif. Sedangkan yang masih mempertahankan tanahnya untuk pertanian semakin terdesak oleh lahan terbangun. Penduduk asli tampaknya tidak siap dengan perubahan ini. Budaya agraris yang melatarbelakangi kebiasaan ekonomi menjadikan mereka tidak sanggup mengimbangi kecepatan perputaran ekonomi akibat perubahan yang terjadi. Aset lahan yang terjual tidak digunakan secara produktif, hanya untuk kebutuhan konsumsi. Sedangkan tanah yang terjual telah menjadi perumahan dan tempat usaha bagi penduduk pendatang. Rumah kos, ruko-ruko dan warung kaki lima adalah tempat usaha yang tumbuh dari perubahan di kawasan ini. Eksternalitas ekonomi yang muncul tidak dinikmati oleh penduduk asli.
Munculnya perumahan-perumahan baru di kawasan ini semakin memperjelas kondisi segregasi secara spasial, dimulai dari konversi lahan pertanian menjadi perumahan. Dalam satu perumahan sendiri, terbagi dalam zona-zona berdasarkan tipe rumah, dan kompleks perumahan merupakan entitas tertutup, ditandai dengan adanya pagar dan gerbang pintu masuk dan keluar. Secara spasial perumahan-perumahan ini merupakan bagian yang terpisah dari lingkungan di luar batas-batasnya. Rancangan perumahan semacam ini didasarkan pada pandangan bahwa keamanan dan kenyamanan penghuninya dapat diperoleh dengan cara ini. Jarak sosial yang dimanifestasikan dalam ruang spasial tercipta dari rancangan perumahan yang tertutup semacam ini. Selain itu, perumahan-perumahan yang dibangun memiliki segmentasi pasar yang berbeda, namun sebagian besar ditujukan pada kelas menengah keatas. Jadi dapat dikatakan bahwa penghuni perumahan adalah orang-orang yang mapan secara ekonomi. Segregasi semacam ini semakin menciptakan kesenjangan yang terjadi. Kenyamanan hanya akan dimiliki oleh penghuni perumahan, sedangkan di luarnya sudah ditemui permasalahan yang sama dengan kota inti. Hal ini berarti bahwa akibat dari perkembangan kawasan sub urban, permasalahan perkotaan yang berupa kesenjangan telah meluas ke daerah pinggiran. Penduduk asli hanya menjadi penonton perkembangan sekaligus korban dari permasalahan yang terjadi, tanpa diberikan jalan keluar.
Permasalahan Lingkungan Akibat tumbuhnya Suburban Semarang Atas
Terkonversinya lahan pertanian menjadi lahan terbangun secara langsung berakibat pada lingkungan. Pengaruh langsung yang dapat dirasakan adalah meningkatnya arus transportasi yang mengikuti perubahan aktivitas penduduk. Ketergantungan pada kendaraan pribadi mengakibatkan kapasitas jalan tidak lagi sebanding dengan jumlah kendaraan. Kemacetan seringkali terjadi pada jam-jam sibuk terutama pada simpul-simpul jalan menuju pusat kota. Kasus yang terjadi di suburban Semarang Atas yaitu adanya bangkitan transportasi dua arah, yakni dari Semarang Atas menuju pusat kota dan sebaliknya. Arus pergerakan ke bawah didominasi oleh penduduk suburban yang bekerja di pusat kota dan arus ke atas didominasi oleh mahasiswa yang belajar di Kampus Tembalang. Pertemuan dua arus ini pada jam sibuk terlihat pada simpul-simpul Jl. Setiabudi - Jl. Prof Soedarto dan Pasar Jatingaleh. Polusi udara adalah akibat langsung dari penggunaan kendaraan pribadi yang semakin meningkat.
Pada kawasan suburban Semarang Atas sendiri (Banyumanik dan Tembalang), pembangunan perumahan dan sarana komersial seringkali tidak sebanding dengan infrastruktur pendukung, terutama infrastruktur jalan. Terlihat bahwa kapasitas jalan terutama Jl. Prof Soedarto tidak lagi sebanding dengan jumlah kendaraan. Jalan sekaligus dimanfaatkan juga sebagai lahan parkir. Ditambah lagi dipertemuan antara Jl. Prof Soedarto dengan Jl. Setiabudi digunakan untuk pangkalan angkot liar yang menambah kesemarawutan. Angkot yang mangkal di lokasi tersebut melayani jalur Ngesrep menuju Undip Tembalang, menyalahi trayek yang seharusnya menuju Gedawang.
Bagian lain dari jalan yakni sempadan dimanfaatkan oleh PKL sebagai tempat berjualan sebagian besar telah ditutup perkerasan. Bahkan saluran drainase yang sudah ada menjadi tidak berfungsi karena ditutup dengan beton, dengan tujuan memperluas tempat berjualan. Jalan yang tidak lagi memiliki kelengkapan berupa sempadan dan drainase, akibatnya sering muncul genangan setelah hujan. Kerusakan jalan terus terjadi pada musim hujan, terutama di jalan yang tergenang air.
Walaupun permasalahan demi permasalahan terus berkembang, konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun terus berjalan. Saat ini masih berjalan proyek pengurukan sawah di daerah Tembalang Selatan untuk perumahan Graha Estetika. Pengurukan ini merupakan bagian dari proyek pembangunan tahap II perumahan Graha Estetika yang dimulai sejak tahun 2006. Proyek ini sempat mengalami masalah karena belum ada ijin AMDAL-nya saat dimulai (Suara Merdeka, 18/10/2008). Tampaknya permasalahan izin tersebut sudah selesai karena pengurukan telah berjalan kembali hingga saat ini. Namun, berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh pengurukan tersebut tidak pernah diperhatikan, dua ruas jalan (Jl. Mulawarman dan Jl. Durian Raya) yang menjadi jalur pengiriman tanah uruk mengalami kerusakan karena tidak sanggup menanggung beban muatan truk. Selain itu, sawah lain yang tidak menjadi bagian dari proyek pengurukan tergenang air. Genangan ini muncul karena saluran air tertutup oleh pengurukan. Sawah yang tergenang tersebut tidak lagi bisa ditanami.
Kepemilikan lahan sawah yang diuruk tersebut terbagi menjadi 4 yakni: PT Dasa Wilis (Pengembang Graha Estetika), Dinas Pertanian, Eks Bengkok Kelurahan Bulusan dan Kramas. Petani menggarap lahan tersebut dengan membayar imbalan kepada pemilik. Mereka yang menggarap lahan milik PT Dasa Wilis Raya, membayar sejumlah uang yang diistilahkan sebagai uang bantuan pajak. Besarnya tergantung luasan lahan dan hasil panen. Sementara, petani yang menggarap lahan milik Dinas Pertanian, menggunakan sistem maro. Namun, pihak Dinas memberi bantuan bibit dan pestisida (www.matabumi.com/news/minggu,23/03/2008). Karena sawah tergenang, petani tidak lagi bisa memperoleh penghasilan. Sawah yang biasanya menghasilkan panen dua kali setahun, tidak lagi bisa ditanami. Sangat mungkin jika lahan sawah yang tersisa tersebut akan menjadi korban konversi selanjutnya karena sudah tidak bisa lagi ditanami dan telah terkepung lahan terbangun. Petani yang merupakan penduduk asli semakin terpinggirkan. Perkembangan yang sebagian orang kira sebagai kemajuan pembangunan ternyata mengorbankan sebagian manusia, dalam hal ini penduduk asli.
Ternyata bukan hanya manusia yang menjadi korban perkembangan di sub urban Semarang Atas. Konversi lahan juga merusak ekosistem hewan, salah satunya adalah burung kuntul. Pepohonan di sepanjang Jalan Setiabudi yang dulunya ramai dihinggapi burung kuntul yang kini kian sedikit. Padahal, burung kuntul tersebut telah menjadi bagian dari identitas Kota Semarang Atas.
Menurut laporan Suara Merdeka (7/11/2007), populasi burung kuntul yang ada di Jl. Setiabudi menyusut. Pada akhir tahun 1990-an jumlahnya mencapai 1.000 ekor, kini yang bertahan di tempat itu tinggal 200-an ekor. Dalam laporan tersebut, Dosen Jurusan Biologi Undip, Karyadi Baskoro SSi, MSi. menjelaskan bahwa berkurangnya populasi burung kuntul di Srondol itu akibat maraknya alih fungsi lahan di Kota Semarang. Sawah, tambak, rawa, dan kawasan pesisir yang menjadi tempat mereka mencari makanan, banyak didirikan bangunan. Akibatnya, unggas sejenis bangau berbulu putih itu memilih tinggal di tempat lain yang lebih dekat dengan sumber makanan. Menurut pengamatan Karyadi, burung-burung tersebut kini pindah ke daerah Sayung, Demak.Perlu diketahui, makanan burung kuntul adalah ikan, binatang laut, siput, katak, dan ular. Di tempat barunya makanan mereka mudah untuk ditemukan. Ini menolak anggapan bahwa hilangnya burung kuntul tersebut diakibatkan meningkatnya kebisingan, karena burung ini tidak peka terhadap suara.
Burung kuntul yang terdapat di pepohonan sepanjang Jalan Setiabudi Srondol adalah empat dari enam jenis burung kuntul yang ada di dunia (Kompas, 04/6/2004). Yaitu, kuntul besar (Egretta alba), kuntul perak (Egretta intermedia), kuntul kecil (Egretta garzetta), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis). Dari keempat jenis itu, kuntul besar paling banyak jumlahnya. Dahulu di pepohonan sepanjang jalan banyak kuntul yang bertengger, kini hanya terpusat pohon asam jawa di depan gerbang Banteng Raider. Sangat disayangkan jika burung kuntul ini menghilang dari pepohonan di sepanjang jalan Setiabudi Srondol. Namun, kecenderungan konversi lahan yang terjadi di kawasan Tembalang dan Banyumanik makin mempersempit tempat hidup burung-burung ini.
Kesimpulan
Pertumbuhan sub urban Kota Semarang Atas (Banyumanik dan Tembalang) menunjukkan bahwa perkembangan kota ke arah pinggiran mengakibatkan beberapa permasalahan utama:
1.Tersisihnya penduduk asli yang telah kehilangan lahan pertanian sekaligus mata pencahariannya.
2.Meningkatnya kesenjangan sosial yang tampak dari adanya segregasi spasial dari pemisahan permukiman berdasarkan kelas ekonomi.
3.Degradasi lingkungan yang mengancam keberadaan identitas kota (burung kuntul) di sepanjang jalan Setiabudi.
4.Kemampuan infrastruktur perkotaan (Transportasi umum, Jalan dan Drainase) yang tidak bisa mengikuti laju perkembangan.
Perkembangan sub urban Semarang atas menunjukkan bahwa permasalahan perkotaan telah meluas. Degradasi lingkungan di kawasan ini mengakibatkan rasa nyaman untuk tinggal hanya diperoleh di perumahan-perumahan elit. Sedangkan di luarnya, kenyamanan tersebut tidak lagi dapat diperoleh.
Pertumbuhan di kawasan sub urban memang memberikan keuntungan yang besar secara ekonomi. Perkembangan yang dimotori sektor properti akan menggerakkan sektor riil yang memutar roda perekonomian. Namun, kemampuan adaptasi dari penduduk asli seharusnya juga mendapatkan perhatian dari otoritas, dalam hal ini pemerintah kota.
Rencana Tata Ruang (RDTRK Kota Semarang 2000-2010) memang telah menetapkan wilayah Tembalang dan Banyumanik sebagai daeah pengembangan Permukiman. Berbagai persyaratan rencana pengembangan telah ada di dalamya, termasuk dalam hal pengendalian lingkungan. Namun, Perda hanya menjadi aturan normatif yang tidak dijalankan. Kondisi di lapangan lebih memperlihatkan bahwa perkembangan wilayah ini lebih dikendalikan oleh pasar. Padahal, sistem ekonomi pasar selalu mereduksi nilai ruang hanya berdasarkan pada nilai nominalnya.
Jika dibiarkan tanpa adanya intervensi dari pemerintah kota selaku pemegang kewenangan, bukan tidak mungkin jika perkembangan ini akan memperluas permasalahan perkotaan yang mungkin tidak akan pernah terselesaikan. Intervensi awal yang mungkin bisa dilakukan adalah merevisi rencana tata ruang yang ada. Namun, revisi rencana tata ruang yang terjadi selama ini hanya dilakukan untuk kepentingan proyek, misalnya dalam kasus Banyumanik dan Tembalang ialah pembangunan tol Semarang-Solo. Mungkin benar yang dikatakan oleh Jean Hillier jika land use planning (perencanaan) hanyalah allegory of prudence. Peranan otoritas kekuasaanlah yang paling berperan disaat partisipasi dalam pembangunan tidak terjadi.
Bacaan
Bappeda Kota Semarang. RDTRK Kota Semarang 2000-2010.
Daljoeni, N. 1999. Geografi Baru. Alumni: Bandung.
Empat dari Enam Kuntul di Dunia Ada di Srondol Kompas. Senin, 14 Juni 2004. Available at : www.kompas.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Graha Estetika : Nyaman Huniannya, Tinggi Nilai Investasinya Kompas.Jumat, 28 Desember 2007. Available at : www.kompas.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Healey, Patsy et all (ed). 1997. Managing City: The New Urban Context. John Wiley & Sons, Inc: New York.
Hillier, Jean. 2002. Shadow of Power: An Allegory of Prudence in Land Use Planning. Routledge: London
Lahan Diuruk, Sawah Tergenang. Edisi Minggu, 23 Maret 2008. Available at : www.matabumi.com . Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Nurmadi, Ahmad. 1999. Manajemen Perkotaan: Aktor, organisasi dan pengelolaan daerah perkotaan di Indonesia. Lingkaran: Yogyakarta.
Paddison, Ronan (ed). 2001. Handbook of Urban Studies. SAGE Publication Ltd: London.
Palen, J John. 1995. The Suburbs. Mc Graw Hill Inc: New York.
Pengurukan Belum Mengantongi Amdal. Suara Merdeka Edisi Rabu, 18 Oktober 2006. Available at : www.suaramerdeka.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Populasi Kuntul Kian Menyusut. Suara Merdeka Edisi Rabu, 07 Nopember 2007. Available at : www.suaramerdeka.com. Diakses pada tanggal 9 April 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mesin Pencari